DOWNLOAD SK GUBERBUR JAWA TENGAH/Kurikulum BHS. JAWA
1. Untuk SD/MI Klik Di Sini atau Klik Di Sini
2. Untuk SMP/MTs Klik Di Sini atau Klik Di Sini
3. Untuk SMA/SMK/MA Klik Di Sini atau Klik Di Sini

Jumat, 22 Februari 2013

Makalah Adat dan Tradisi : Tingkeban/Mitoni

"TINGKEBAN" DALAM PERSPEKTIF BUDAYA BANGSA SECARA ISLAMI



Upacara Tingkeban 
adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa, upacara ini disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang arti nya tujuh. Upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali. Upacara ini bermakna bahwa pendidikan bukan saja setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam rahim ibu. Dalam upacara ini sang ibu yang sedang hamil di mandikan dengan air kembang setaman dan disertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan YME agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.
Menurut tradisi Jawa, upacara dilaksanakan pada tanggal ganjil sebelum bulan purnama seperti 3,5,7,9,11, 13 atau 15. bulan Jawa ,dilaksanakan di kiri atau kanan rumah menghadap kearah matahari terbit. Yang memandikan jumlahnya juga ganjil misalnya 5,7,atau 9 orang. Setelah siram di pakaikan kain /jarik sampai tujuh kali, yang terakhir/ ketujuh yang dianggap paling pantas dikenakan , kemudian acara pemotongan tumpeng tujuh yang diawali dengan doa kemudian makan rujak.dst. Hakekat yang mendasar dari semua tradisi Jawa adalah suatu ungkapan syukur dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan dan kenteraman , namun di ungkapkan dalam bentuk lambang -lambang yang masing-masing mempunyai makna.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah Adat Istiadat ini tepat pada waktunya yang berjudul “TINGKEBAN  DALAM PERSPEKTIF BUDAYA BANGSA”
Makalah ini berisikan tentang informasi, tata cara melaksanakan TINGKEBAN dan   perlengkapan-perlengkapan yang dipergunakan pada upacara adat TINGKEBAN. 
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang upacara adat atau tradisi TINGKEBAN.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Ponorogo,  22 Februari  2013


Penyusun



ABSTRAKSI 
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI 
BAB I PENDAHULUAN 
    A. LATAR BELAKANG
    B. RUMUSAN MASALAH
    C. TUJUAN PENELITIAN
    D. MANFAAT PENELITIAN
BAB II PEMBAHASAN 
    A.  SEJARAH MUNCULNYA TINGKEBAN
    B.  PERLENGKAPAN  TINGKEBAN
    C.  RANGKAIAN ACARA TINGKEBAN
    D.  KAITAN TINGKEBAN DENGAN ISLAM
BAB III KESIMPULAN
    A. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA 


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tingkeban sebagai salah satu dari keberagaman budaya Bangsa Indonesia, sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Ponorogo, dan sekitarnya. Menurut ilmu sosial dan budaya, tingkeban dan ritual-ritual lain yang sejenis adalah suatu bentuk inisiasi, yaitu sarana yang digunakan guna melewati suatu kecemasan. Dalam hal ini, kecemasan calon orang tua terhadap terkabulnya harapan mereka baik selama masa mengandung, ketika melahirkan, bahkan harapan akan anak yang terlahir nanti. Maka dari itu, dimulai dari nenek moyang terdahulu yang belum mengenal agama, menciptakan suatu ritual yang syarat akan makna tersebut, dan hingga saat ini masih diyakini oleh sebagian masyarakat Ponorogo dan sekitarnya.
Sedemikian rumitnya ritual tingkeban ini, hingga memerlukan tenaga, pikiran, bahkan materi baik dalam persiapan maupun ketika pelaksanaannya. Semua tahap-tahap tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai tahap-tahap yang harus dilalui. Mulai dari pemilihan hari dan tanggal pelaksanaan saja harus memenuhi syarat dan ketentuan yang ada. Apabila mereka melanggar, maka masyarakat sekitar akan segera merespon negatif terhadap hal tersebut. Piranti-piranti yang tidak sedikit jumlahnya tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit pula. Dalam persiapannya, khususnya piranti yang berupa makanan ada yang memerlukan waktu hingga tiga hari sebelum pelaksanaan acara, seperti jenang dodol. Bahkan ada beberapa piranti yang harus terbuang sia-sia. Akan tetapi masih banyak masyarakat yang belum sadar akan hal itu, bahkan mengaggapnya wajar.
Gunung Lawu bagi sebagian besar masyarakat Ponorogo sangatlah sakral keberadaannya.Awalnya semua adat istiadat dan budaya daerah sekitar gunung tersebut, termasuk lereng sebelah timur pun berkiblat pada Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Akan tetapi ketika runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1400, terjadi akulturasi budaya dengan Kerajaan Majapahit. Hal ini terjadi karena raja Majapahit Prabu Brawijaya V memilih arah barat sebagai tempat pelariannya ketika penyerangan oleh pasukan Islam. Dan pelarian itu menunjukkan jalan kepada Prabu Brawijaya V sampai di Gunung Lawu sebagai tempat pelariannya hingga akhir hayatnya
Dari beberapa pemaparan di atas, penulis memilih judul tersebut karena merupakan tradisi warisan leluhur yang masih dianggap sangat sakral. Demikian juga dengan memilih daerah Ponorogo sebagai tempat penelitian karena letaknya yang berada di dekat  lereng gunung Lawu. Ponorogo meruapakan salah satu daerah yang dahulunya telah terjadi akulturasi antara budaya Yogyakarta dan Majapahit. Selain itu juga  didukung dengan sumber-sumber data yang relevan.
B. Rumusan Masalah
1. Seperti apa sejarah munculnya Tingkeban itu?
2. Apa saja perlengkapannya serta bagaimana prosesinya?
3. Adakah Kaitannya antara tradisi tersebut dengan ajaran Islam?
C. Tujuan Penelitian.
1. Untuk mengetahui sejarah munculnya upacara Tingkeban.
2. Untuk mengetahui hal-hal yang disiapkan serta jalannya upacara Tingkeban.
3. Untuk mengetahui kaitan antara upacara Tingkeban dan ajaran Islam.
D. Manfaat Penelitian.
Penelitian ini kami laksanakan dengan harapan agar masyarakat setempat khususnya dapat memahami tradisi tersebut secara benar, baik dipandang dari segi budaya maupun ajaran agama. Selain itu tulisan ini juga sebagai sarana berlatih bagi penilis untuk meningkatkan kemampuan menulis penulis. Dan sebagai media pewarisan ilmu oleh sesepuh kepada generasi penerus. Dengan adanya karya tulis ini penulis berharap dapat memberi sedikit sumbangan kepada masyarakat terutama masyarakat. kampus. Selain itu, mungkin dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian-penelitian serupa dikemudian hari.
Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah agar upacara tradisi tingkeban yang sangat baik ini dapat dilaksanakan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang benar-benar bernilai Islami.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Munculnya Tingkeban
Tingkeban sebagai salah satu dari keberagaman budaya Bangsa Indonesia, sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Ponorogo, dan sekitarnya. Menurut ilmu sosial dan budaya, tingkeban dan ritual-ritual lain yang sejenis adalah suatu bentuk inisiasi, yaitu sarana yang digunakan guna melewati suatu kecemasan. Dalam hal ini, kecemasan calon orang tua terhadap terkabulnya harapan mereka baik selama masa mengandung, ketika melahirkan, bahkan harapan akan anak yang terlahir nanti. Maka dari itu, dimulai dari nenek moyang terdahulu yang belum mengenal agama, menciptakan suatu ritual yang syarat akan makna tersebut, dan hingga saat ini masih diyakini oleh sebagian masyarakat Ponorogo.
Tingkeban menurut cerita yang dikembangkan turun-temurun secara lisan, memang sudah ada sejak zaman dahulu.Menurut cerita asal nama “Tingkeban” adalah berasal dari nama seorang ibu yang bernama Niken Satingkeb, yaitu istri dari Ki Sedya. Mereka berdua memiliki sembilan orang anak akan tetapi kesembilan anaknya tersebut selalu mati pada usia dini. Berbagai usaha telah mereka jalani, tetapi tidak pula membuahkan hasil. Hingga suatu saat mereka memberanikan diri untuk menghadap kepada Kanjeng Sinuwun Jayabaya.
Jayabaya akhirnya menasehati mereka agar menjalani beberapa ritual. Namun sebagai syarat pokok, mereka harus rajin manembah mring Hyang Widhi laku becik,welas asih mring sapada, menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan khusyu’, dan senantiaasa berbuat baik welas asih kepada sesama. Selain itu, mereka harus mensucikan diri, mandi dengan menggunakan air suci yang berasal dari tujuh sumber air. Kemudian berpasrah diri lahir batin dengan dibarengi permohonan kepada Gusti Allah,apa yang menjadi kehendak mereka, terutama untuk kesehatan dan kesejahteraan si bayi. Supaya mendapat berkah dari Gusti Allah, dengan menyertakan sesaji yang diantaranya adalah takir plontang, kembang setaman, serta kelapa gading yang masih muda.
Setelah serangkaian ritual yang dianjurkan oleh Raja Jayabaya, ternyata Gusti Kang Murbeng Dumadi yaitu Gusti Allah mengabulkan permohonan mereka. Ki Sedya dan Niken Satingkeb mendapat momongan yang sehat dan berumur panjang. Untuk mengingat nama Niken Satingkeb, serangkaian ritual tersebut ditiru oleh para generasi selanjutnya hingga sekarang dan diberi nama Tingkeban Dengan harapan mendapat kemudahan dan tidak ada halangan selama hamil, melahirkan, hingga si anak tumbuh dewasa. Atas dasar inilah akhirnya hingga kini ritual tingkeban tetap dilaksanakan bahkan menjadi suatu keharusan bagi masyaraka Jawa khususnya di daerah Ponorogo dan sekitarnya.
B. Perlengkapan Tingkeban.
Dahulu masyarakat Ponorogo mengenal tiga teradisii yang harus dilaksanakan selama masa mengandung. Ketiga teradisi tersebut adalah tradisi Neloni, Tingkeban atau Rujakan dan Procotan. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, ketiga tradisi tersebut diringkas secara pelaksanaannya menjadi satu, yaitu ketika waktu Tingkeban atau tujuh bulan. Walaupun diringkas secara waktu tetapi ubo rampe atau piranti yang harus disiapkan dari tiap-tiap  ritual tetap disediakan.
Jauh-jauh hari sebelum usia kandungan memasuki tujuh bulan, calon orang tua bayi harus mementukan hari yang baik sesuai petungan Jawa. Menurut petungan Jawa hari-hari yang baik itu yang memiliki neptu  genap dan jumlahnya 12 atau 16.                                                                                                                                                                              

Tabel 1. Neptune Dino lan Pasaran Petungan Jawa

No
Nama Hari
Neptune
No
Nama Pasaran
Neptune
1
Akhad
5
1
Pon
7
2
Senin
4
2
Wage
4
3
Selasa
3
3
Kliwon
8
4
Rabu
7
4
Legi
5
5
Kamis
8
5
Pahing
9
6
Jum’at
6
7
Sabtu
9


Hari-hari yang baik adalah yang neptunya 12 atau 16 misal Kamis Kliwon, Senin Kliwon, Akhad Pon dan sebagainya. Kamis memiliki neptu 8 dan Kliwon memiliki neptu 8 jadi Kamis Kliwon memiliki neptu 16, begitu juga Senin Kliwon memiliki neptu 12 dan Akhad Pon memiliki neptu 12.
Selain penentuan hari yang ada aturannya, segala ubo rampe atau piranti juga sangat rumit pula. Masing-masing ritual ada piranti sendiri-sendiri yang beraneka ragam. Semua piranti tersebut disediakan bukan tanpa maksud. Dari sumuanya memiliki werdi atau makna sendiri-sendiri.
Tabel 2. Piranti Ritual Tingkeban
No
NamaRitual
Waktu Seharusnya
Piranti
1
Neloni
Tiga bulan dari masa mengandung
Takir plontang 4 buah
Golong 7 buah
Jajan pasar
Jenang abang
Jenang putih
Jenangkuning
Jenang ireng
Jenang sengkolo
2
Tingkeban
Enam bulan dari masa kehamilan
Woh-wohan
Punar 2 buah
Kembang setaman
Sesaji dakripin(Suro ganep)
Daun dadap srep
Daun beringin
Daun andong
Janur
Mayang
Jenang abang
Jenang putih
Jenang kuning
Jenang ireng
Jenang waras
Jenang sengkolo
3
Procotan
Delapan bulan dari masa kehamilan
Jenang abang
Jenang putih
Jenang kuning
Jenang ireng
Jenang waras
Jenang sengkolo
Jenang inthil-inthil
Jenang sewu (dawet)
Jenang sempuro
Jenang kembo
Jenang procot
Jenang arang-arang kambang
Ketupat lepet

Kamajaya dan Kamaratih (Dewi Ratih)


Upacara tersebut dimulai denga acara kenduri telon-telon yang dihadiri oleh tetangga, kerabat, sanak saudara dan lain-lain. Semua piranti telon-telon dibawa ke hadapan undangan. Setelah semua piranti dihidangkan berjonggo atau sesepuh desa ngujubne yaitu menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya upacara tersebut dan menjelaskan makna satu per satu dari makanan yang telah terhidang. Dengan sautan undangan dengan kata-kata nggeh disetiap akhir kalimat yang diucapkan oleh berjonggo. Satu per satu makanan yang dihidangkan dijelaskan hingga usai dan dilanjutkan dengan do’a, dan yang terakhir dari rangkaian acara pertama ini adalah memakan hidangan yang telah tersedia.
Selesai upacara yang pertama yaitu upacara telon-telon, dengan menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara tingkeban. Prosesi tingkeban inilah yang penulis anggap sakral karena mulai dari hari sampai jam pelaksanaanya diyentukan dan tidak boleh dilanngar. Sebelum acara dimulai sesepuh desa menata beberapa lembar kain jarit batik di tengah rumah shohibul hajat. Secangkir air putih dan kelapa muda serta sebuah sabitr besar diletakkan di depan pintu. Sedangkan di sisi pintu luar tepatnya di teras rumah telah menunngu orang tua shohibul hajat dengan membawa lemper dan bumbu rujak.Setelah semua siap dan waktu pelaksanaannya tiba, kedua shohibul hajat masuk ke rumah dan duduk bersanding di atas kain jari yang telah tertata. 
Sesepuh desa membaca beberapa mantra dan mengajari beberapa kalimat untuk ducapkan oleh shohibul hajat.Salah satu penggalan kalimat tersebut adalah ”Niat ingsun nylameti jabang bayi, supaya kalis ing rubeda, nir ing sambikala, saka kersaning Gusti Allah. Dadiyo bocah kang bisa mikul dhuwur mendhem jero wong tuwa, migunani mring sesama,ambeg utama, yen lanang kadya Raden Kamajaya, yen wadon kadya Dewi Kamaratih kabeh saka kersaning Gusti.”
Usai prosesi tersebut keduanya berjalan keluar rumah dengan larangan tidak boleh menengok ke belakang. Sesampainya di depan pintu, calon bapak memecah kelapa muda dengan sabit yang dibarengi dengan calon ibu menyampar cangkir. Upacara ini disebut juga upacara brojolan, yaitu memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Kamajaya dan Kamaratih atau Arjuna dan Sembadra ke dalam sarung dari atas perut calon ibu. Makna simbolis dari upacara ini adalah agar kelak bayi lahir dengan mudah tanpa kesulitan.

Di sisi lain nenek dari jabang bayi tersebut menumbuk bumbu rujak yang telah disiapkan hingga halus. Usai menyampar cangkir dan memecah kelapa muda, keduanya mandi dan kembali ke dalam rumah melalui pintu utama. Sesampainya di dalam rumah akan dilanjut dengan prosesi ganti busana. Prosesi ini dilakukan oleh calon ibi dengan tujuh jenis kain batik dengan motif yang berbeda. Ibu akan memakai model kain yang terbaik dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambang kain.
Tabel 3. Jenis Kain dan Maknanya.

No
          Jenis Kain Batik
Maknanya
1
Sidomukti
Kebahagiaan
2
Sidoluhur
Kemuliaan
3
Truntun
Nilai-nilai yang selalu dipegang teguh
4
Parang Kusuma
Perjuangan untuk hidup
5
Semen Rama
Akan lahir anak yang cinta kasih kepada orang tua yang sebentar lagi akan menjadi bapak dan ibu tetap bertahan selama-lamanya.
6
Udan Riris
Anak yang akan lahir akan menyenagkan dalam kehadirannya di masyarakat
7
Cakar Ayam
Anak yang lahir dapat mandiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri.








Sido Mukti



Sido luhur


                        

Truntun


                      

Parang Kusuma

               

Semen Rama


               

Udan Riris


                

Cakar Ayam


Bumbu rujak yang telah dihaluskan oleh calon nenek jabang bayi tersebut selanjutnya dibawa ke dapur untuk segera dicampur dengan beberapa buah-buahhn dan dihidangkan kepada para undangan.
Tak lama berselang dari prosesi inti yaitu tingkeban maka langsung melanjutkan prosesi terakhir yaitu procotan. Dalam prosesi ini tidak jauh berbeda dengan prosesi telon-telon, yaitu semua piranti dihidangkan di hadapan undangan, setelah tersaji sesepuh desa ngujubne dan di saksikan oleh undangan dengan menjawab kalimat- kalimat sesepuh tersebut dengan kata nggeh. Seusai prosesi tersebut di akhiri dengan do’a dan memakan hidangan yang ada.
C. Rangkaian Acara Tingkeban
1. Pembacaan Ayat Suci Al Qur’an
2. Sungkeman
        Sungkeman ini dilakukan oleh istri kepada suami dan dilanjutkan oleh suami – istri pada orangtuanya.

3. Siraman

       Siraman ini dilakukan kepada calon orang tua jabang bayi dengan air dari 7 sumber dan dilakukan oleh tujuh orang sesepuh keluarga. Gayung yang dipakai untuk siraman ini terbuat dari kelapa yang masih ada dagingnya dan bagian dasarnya diberi lobang. Setelah siraman si calon ibu dpakaikan kain 7 warna, yang melambangkan sifat-sifat baik yang akan dibawa oleh jabang bayi dalam kandungan.

4. Pantes-pantes (Ganti Busana 7 kali)
Dalam acara pantes-pantes ini calon ibu dipakaikan kain dan kebaya 7 macam. Kain dan kebaya yang pertama sampai yang ke enam merupakan busana yang menunjukkan kemewahan dan kebesaran. Ibu-ibu yang hadir saat ditanya apakah si calon ibu pantas menggunakan busana-busana tersebut menberikan jawaban : “dereng Pantes” (belum pantas). Setelah dipakaikan busana ke tujuh yang berupa kain lurik dengan motif sederhana baru ibu-ibu yang hadir menjawab : “pantes” (pantas). Di sini merupakan perlambang bahwa ibu yang sedang mengandung sebiknya tidak memikirkan hal yang sifatnya keduniawian dan berpenampilan bersahaja.


5. Tigas Kendit
Calon ibu kemudian diikat perutnya (dikenditi) dengan janur kuning. Ikatan janur ini harus dipotong (ditigas) oleh calon ayah si bayi untuk membuka ikatan yang menghalangi lahirnya si jabang bayi. Ikatan tersebut dipotong dengan keris yang ujungnya diberi kunyit sebagai tolak bala.
Tigas Kendhit

6. Brojolan
Dalam acara brojolan ini, dua buah Cengkir gading (kelapa gading muda) yang telah diberi gambar wayang (biasanya gambar Betara Kamajaya-Dewi Ratih atau Harjuna – Sembadra) dimasukkan oleh calon ayah melalui perut calon ibu dan diterima oleh nenek jabang bayi. Harapan dari acara ini adalah supaya si jabang bayi yang lahir memiliki fisik dan sifat seperti tokoh wayang tersebut.



7. Angrem
Di sini Calon Ibu duduk di tumpukan kain yang tadi digunakan dalam acara Pantes-pantes seperti ayam betina yang sedang mengerami telurnya. Harapannya adalah agar si jabang bayi dapat lahir cukup bulan.

Pada saat pelaksanaan acara ini dikumandangkannya bacaan-bacaan “Shalawat Nabi” yang diiringi alunan musik rebana.
8. Dhahar Ajang Cowek
Di sini calon ayah duduk mendamping calon ibu di tumpukan kain dan berdua mengambil makanan yang disediakan dengan alas makan cowek (cobek)dan mereka berdua memakannya sampai habis. Harapannya adalah supaya plasenta bayi menjadi sehat sehingga si jabang bayi dapat bertumbuh dengan sehat.

Calon ayah si bayi kemudian menjatuhkan tropong (alat tenun tradisional ) di sela kain 7 warna yang melambangkan proses kelahiran si bayi kelak yang berjalan lancar dan sempurna.
D. Kaitan Tingkeban Dengan Ajaran Islam
     Sebenarnya pelaksanaan tingkeban berangkat dari memahami hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhori, yang menjelaskan tentang proses perkembangan janin dalam rahim perkembangan seorang perempuan. Dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa pada saat janin berumur 120 hari (4 bulan) dalam kandungan ditiupkan ruh dan ditentukan 4 perkara, yaitu umur, jodoh, rizki, dan nasibnya.
Sekalipun dalam hadits tersebut tidak ada perintah untuk melakukan ritual, tetapi melakukan permohonan pada saat itu tidak dilarang. Dengan dasar hadits tersebut, maka kebiasaan orang jawa khususnya Yogya-Solo mengadakan upacara adat untuk melakukan permohonan agar janin yang ada dalam rahim seseorang istri lahir selamat dan menjadi anak yang soleh dan solekhah.
Pada dasarnya “Tingkeban” merupakan ritual yang bernilai sakral dan bertujuan sangat mulia. Karena di dalam ritual Tingkeban terdapat permohonan do’a kepada Gusti Alloh. Dan dikumandangkan kalimat-kalimat Shalawat Nabi merupakan bukti pelaksanaan tingkeban secara Islami. Dikumandangkannya Shalawat Nabi dalam tradisi umat Islam di Ponorogo dikenal dengan “Berjanjen”.
Berjanjen ini diharapkan dapat memberikan pendidikan kepada Janin yang dikandung oleh sang ibu sejak “Si Jabang Bayi” masih dalam kandungan seiring dengan ditiupkannya “RUH” kepada “Si Jabang Bayi”.

BAB III
SIMPULAN
Berdasarkan uraian panjang di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tingkeban adalah suatu bentuk inisiasi masyarakat  pada jaman dahulu, yang mengharapkan dikaruniai anak yang seperti diharapkan  serta memperoleh kelancaran baik ketika mengandung maupun saat melahirkan. Tradisi ini dipercaya berawal pada masa Jayabaya yang di wariskan turun temurun hingga sekarang dan ditaati oleh sebagian besar masyarakat Jawa.
Adapun kaitannya dengan ajaran Islam adalah sebagai penghormatan ketika masuknya ruh ke dalam jasad jabang bayi dengan harapan agar ruh yang diberikan adalah ruh yang baik sehingga anak yang lahir nantinya juga berakhlak baik pula.
Mitoni atau tingkeban merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat jawa. Kata mitoni berasal dari kata “am” (awalan am menunjukkan kata kerja)  dan “7” yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan pada bulan ke-7. Upacara mitoni merupakan suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandung senantiasa memperoleh keselamatan. Pada hakekatnya upacara ini dipercaya sebagai sarana menghilangkan petaka. Akan tetapi dalam syariat Islam adat seperti ini tidak dibenarkan karena tidak sesuai dengan ajaran. Oleh karena itu seharusnya mulai dari sekarang adat tersebut mulai untuk dihilangkan dari kehidupan masyarakat dan akan membentuk masyarakat yang Islami.

Upacara adat 7 bulanan yang disebut mitoni ataupun tingkeban ini mengajarkan kepada masyarakat untuk saling kerjasama menghargai terhadap sesama.tidak hanya itu, mitoni ini mengangkat berbagai macam kain-kain yang dipakai oleh calon ibu yang mempunyai makna masing-masing. Dari makna-makna tersebut kita dapat mengambil pelajaran, yaitu kita sebagai manusia makhluk ciptaan Allah SWT hendaknya harus cermat serta harus merencanakan bagaimana kita hidup di dunia ini yang penuh dengan kesenangan ataupun sendau gurau dan lainnya. Jika kita sebagai manusia hidup di dunia ini tidak mempunyai tujuan hidup yaitu akhirat, alangkah menyesalnya kita sebagai manusia. Oleh sebab itu kita harus mempunyai rencana- rencana maupun target-target hidup di masa mendatang kelak, sehingga kita menjadi manusia yang sukses tidak hanya di dunia namun di akherat pun juga. Dalam prosesi mitoni juga dijelaskan bahwa yang memimpin upacara adalah ibu yang sudah berpengalaman, disini bisa dilihat bahwa dalam suatu acara maupun kepanitiaan maupun kepemerintahan, sudah tentu kita hendaknya memilih seseorang yang lebih mengerti maupun lebih berpengalaman untuk memimpin suatu kelompok.

Upacara “Tingkeban” merupakan adat, tradisi dan budaya bangsa Indonesia, khususnya masyarakat yang ada di pulau Jawa dan terlebih lagi bagi masyarakat di Jawa Timur, Jawa Tengah maupun di Daerah Istimewa Yogjakarta.
Pada dasarnya “Tingkeban” merupakan ritual yang bernilai sakral dan bertujuan sangat mulia. Karena di dalam ritual Tingkeban terdapat permohonan do’a kepada Gusti Alloh. Dan dikumandangkan kalimat-kalimat Shalawat Nabi merupakan bukti pelaksanaan tingkeban secara Islami. Dikumandangkannya Shalawat Nabi dalam tradisi umat Islam di Ponorogo dikenal dengan “Berjanjen”.


DAFTAR PUSTAKA
1. Gunasasmita. Kitab Pribmon Jawa Serbaguna. Yogyakarta: Soemodidjaja  
    Mahadewa, 2009
2. http://www.jelajahbudaya.com/ (Jum’at 25 November 2011: 09.00)
3. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/ (Jum’at 25 November 2011: 09.00)
4. Tjakraningrat, K.P. Harya Atassadhur Adimmakna. Yogyakarta: Soemodidjaja
    Mahadewa, 1880.
5.  Bektijamal Adimmakna. Yogyakarta: Soemodidjaja Mahadewa, 1880.
6. Betaljemur Adimmakna. Yogyakarta: Soemodidjaja Mahadewa, 1880.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ismail Wiroprojo